Rangkuman Talkshow “Sukses Mendidik Anak” dari sekolah Sophia (bersama pakar parenting dan analisis sidik jari, Bapak Eko Chrismiyanto)

Kali ini aku mau share Talk show yang pernah diadakan di sekolah anakku. Dengan tema “Rahasia Sukses Mendidik Anak Usia Dini”. Mengundang pembicara Bapak Eko Chrismiyanto, seorang konsultan keluarga dan pakar analisis sidik jari, dari deMost (Mitra Observation Sinergi Talenta)

Berikut rangkuman materinya:

Bahwa nggak ada sekolah menjadi orang tua. Tau-tau kita sudah menjadi orang tua. Kita hanya bisa meniru cara orang tua dulu atau malah menghindari cara orang tua dulu.

Tetapi yang kadang kita lupa, bahwa anak adalah peniru ulung. Kita bersikukuh ingin mengasuh anak menjadi baik. Namun anak hanya mengikuti apa yang dilihat dari orang tuanya.

Ketika anak kita suka berteriak, suka membanting, gak sabaran. Itu karena dia pernah melihat orang tua nya atau siapapun yang mengasuh nya bersikap demikian, tanpa disadari.

Berdasarkan analisis sidik jari, ada 4 tipe karakter orang tua :

  1. Orangtua yang mendidik dengan perasaan. Cara mengasuh anak semua tergantung dari suasana hati nya. ( Gw banget ) Kalo lagi seneng, keliatan sayang sama anak. Anak lagi cerewet, anak nangis gak terlalu diambil pusing. Tapi kalo lagi badmood, cepat sekali terbawa emosi marah ke anak hanya karena masalah sepele. Karakter ini rata-rata tidak terbuka, jarang cerita ke orang lain kalo dia punya masalah. Jadi kuncinya : Selalu jaga mood agar tetap dalam kondisi baik. Jangan libatkan perasaan dalam mengasuh anak. Bukan salah anak yang membuat perasaan hati jadi buruk. Ambil tanggung jawab untuk memperbaiki suasana hati diri sendiri. Sebelum menghadapi anak-anak. ( Beruntung sekali aku sudah mengikuti pelatihan Mindfulness Parenting )
  2. Orangtua tipe Visioner/Analitik. Orangtua yang memiliki pandangan jauh ke depan. Mereka sudah punya rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Bahkan sudah mempunyai rencana nya, anaknya nanti akan disekolahkan kemana, dan mau jadi apa besar nanti. Kekurangannya : Tidak suka bila ada hal berjalan tidak sesuai rencana. Bila anak tidak memenuhi harapan orangtua nya langsung panik. Padahal hidup ini penuh warna. Manusia hanya bisa berencana. Tapi yakinlah, pasti akan selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Tidak usah terlalu perfeksionis. Ada satu dua hal yang berjalan tidak sesuai rencana, itu tak mengapa. ( Nah, aku pun salah satu dari perfeksionis yang sudah mulai berdamai pada kehidupan. Ada hal yang tak sesuai harapan, never mind. Just let it go. )
  3. Orangtua yang mendahulukan keluarga. Prinsipnya Family first. Biasanya orangtua tipe ini, di masa lalu pernah mengalami kesulitan ekonomi. Dia punya masa lalu keinginan nya banyak yang tidak terpenuhi. Sehingga orang tua tipe ini berusaha untuk selalu menuruti keinginan anaknya. Negatifnya : dalam hidup tidak bisa hidup selalu berjalan mulus. Ada saja keinginan yang tidak mungkin tercapai. Anak yang biasa dari kecil selalu dipenuhi keinginan nya dia besar nanti akan menjadi penuntut. Egois. Mementingkan dirinya sendiri. Maka, haruslah seimbang dalam aturan mana yang boleh diberikan ke anak dan mana yang tidak.
  4. Orangtua yang memiliki keteguhan hati. Biasanya sudah memiliki aturan-aturan tersendiri dalam mengasuh anak-anaknya. Cenderung saklek. Sekali tidak ya tidak. Hampir sama dengan karakter orang tua nomor dua, janganlah terlalu saklek dalam mengasuh anak. Fleksibel aja. Sekali-kali ada hal diluar aturan asal tidak terlalu bahaya, no problemo. Karena anak adalah manusia yang mempunyai pemikiran dan perasaan nya sendiri. Bukan robot yang bisa kita atur tombol nya sesuka hati.

Bila pola asuh orangtua itu tercipta pada diri kita ? Yaitu sejak ijab kabul dalam pernikahan.

Perasaan kasih sayang suami istri berpengaruh besar. Kehidupan suami-istri yang harmonis akan mempermudah nantinya dalam mengasuh anak-anak.

Terlebih ketika sang ibu sedang hamil, bagi kedua nya jangan banyak pikiran. Tidak hanya ibu yang mengandung, tapi juga bapak dari anak yang dikandungnya.

Itulah mengapa, menurut statistik : Anak pertama lebih serius sedangkan anak kedua lebih ceria. Dikarenakan ketika hamil pertama kalinya, baik ibu maupun bapaknya biasanya mudah mengkhawatirkan anak mereka. Karena belum ada pengalaman. Berbeda saat hamil anak kedua, biasanya sudah lebih rileks.

Begitu juga ketika seorang ibu hamil di usia nya yang sudah tua.  Jelang 40 tahun , misalnya. Hamil kebobolan yang tidak diharapkan. Sangat penting diingatkan dalam kondisi ini, jangan pernah sekalipun membatin tidak suka dengan kehamilan ini. Nantinya akan berdampak anaknya jadi bandel.

Aturan mengasuh anak :

  • Saat anak berusia 1 sampai 6 tahun perlakukan dia seperti raja. Layani semua kebutuhannya. Walau ada tingkah lakunya yang bikin marah, tahan emosi kita. Jangan dibentak. Karena satu bentakan akan menghancurkan miliyaran sel di otak anak. ( Sampai sini ingin menangis rasanya teringat pernah kelepasan membentak anak-anak, hiks ) Itulah sebabnya anak umur segini yang biasa dibentak sampai dewasa dia jadi gampang takut, gampang panik. Tidak punya percaya diri. Di usia ini kebutuhan anak adalah bermain. Dan kelekatan dengan kedua orangtuanya. Bertahap juga kita ajarkan etika dan kemandirian pada anak. Namun pelan-pelan dan jangan dipaksa.
  • Anak berusia 7 sampai 18 tahun perlakukan seperti tawanan. Di usia ini , anak harus mandiri. Yang sebelumnya mau mandi dibantu, makan disiapkan, dan lainnya, pada usia ini jangan dibantu. Anak harus sudah bisa melayani kebutuhan nya sendiri. Anak harus kita persiapkan untuk hidup mandiri tanpa kita. Agar kedepannya dia tidak mengalami kesulitan. Apalagi resiko sakit zaman sekarang mudah (Siap-siap untuk kita para orang tua) Dunia sudah tidak seperti dulu. Udara tidak sebersih dulu. Jangan sampai karena anak terbiasa dilayani, anak tidak siap kita tinggalkan. (Disini juga aku hampir menitikkan air mata)
  • Anak diatas usia 18 tahun : perlakukan dia sebagai partner. Kita sudah di posisi setara dengan anak disini. Saling berbagi pendapat. Mau mendengarkan anak. Jangan karena kita lahir lebih dulu, menganggap remeh apa yang dikatakan anak. Karena orangtua pun manusia. Yang bisa salah.

Langkah dalam mendidik anak sebagai berikut :

  1. Ketahui karakter anak kita apa.
  2. Ketahui gaya komunikasi anak seperti apa.
  3. Ketahui gaya belajar anak (visual, auditorial,kinestetik)
  4. Asah kecerdasan majemuk nya. Ketahui apa bakat anak dan tuntun untuk meningkatkannya.
  5. Kembangkan profil kepribadiannya.

Saat mengikuti talkshow ini, di sekolahan juga disediakan arena bermain. Dari mulai permainan yang sudah ada, seperti ayunan, perosotan, dll. Juga ada tempat mainan air, main pasir, masak-masakan. Dan yang paling diminati anakku yaitu melukis dengan cat air. ( Turunan dari ibunya sepertinya yang dulu masih kecil suka lukis, hehe )

Orangtua pilih mana ? Anak yang pintar atau anak yang santun ? Karena anak santun pasti pintar. Sedangkan anak yang pintar belum tentu santun. Kesuksesan anak juga akan berbanding lurus dengan caranya beretika.

Jangan paksa anak untuk menjadi seperti orangtua. Anakmu ada padamu , tapi bukan milikmu. Anak mempunyai jalannya sendiri.

Berikutnya rangkuman tanya jawab dari para orangtua yang hadir, ku tarik kesimpulannya aja.

  • Anak yang sering bertanya, kecenderungan bersikap kritis. Kalau mengajarkan sesuatu padanya yaitu dengan mencontohkan berulang-ulang. Kadang-kadang kita kembalikan pertanyaan itu ke anak. Kadang anak bertanya hanya untuk menguji kita. Kalau anak di usia nya yang seharusnya kritis hanya diam berarti anak itu harus diperiksa. Kalau sudah terlalu banyak tingkah, anak perlu dielus, dipeluk. Boleh sambil didengarkan musik lembut. Itu yang akan melambatkan ritme gerakan anak.
  • Bagaimana anak percaya diri : adalah suatu proses. Biasanya karena waktu kecil banyak dilarang, maka dia menjadi gak pede. Karena kemampuan masih terbatas. Belum tau cara berinteraksi dengan teman. Biasakan kalau kita melarang anak, jangan bilang yg tidak diinginkan! Bilang yang diinginkan. Misalkan anak sedang berlarian. Jangan katakan “Nanti jatuh”. Biasanya malah anak jadi jatuh beneran. Tapi katakan saja “Hati-hati ya nak” atau “Pelan-pelan ya nak”. Satu lagi yang biasanya membuat anak jadi gak pede yaitu Becanda kebalik. Maksud hati bilang “cantik”, malah bilang “anak jelek”. Hati-hati, karena kata ini yang terekam dalam pikiran anak.
  • Anak yg tidak mau mengalah, calon leader. Maunya nyuruh gak mau disuruh. Bagus bila bertemu anak dengan karakter ini. Berarti dia calon pemimpin. Kelak dia akan sukses. Tinggal kita arahkan saja.
  • Untuk orangtua yang keduanya bekerja disarankan , biasakan memeluk anak tiap menjelang tidur. Luangkan family time dengan waktu produktif. Begitu juga ketika mengantar anak sekolah, jangan cuma salim tangan, sempatkan juga memeluk anak dan katakan sayang padanya. Pertahankan kebiasaan ini hingga anak usia SMP. Jangan sampai terlewatkan. Kedepannya anak akan mengerti kalau orangtuanya menyayangi dia. Sehingga dia akan lebih mendengarkan orangtua nya sendiri daripada orang lain.

Kurang lebih inilah yang dapat ku simpulkan. Semoga bermanfaat, bagi kita para orang tua.

5 thoughts on “Rangkuman Talkshow “Sukses Mendidik Anak” dari sekolah Sophia (bersama pakar parenting dan analisis sidik jari, Bapak Eko Chrismiyanto)

    1. Itu bukan dibayangin mbak, tapi akan ketahuan kalau sudah praktek 😁😁 karena setiap orang pasti niatnya mau idealis ke anak, tapi praktiknya gak segampang itu. Pengalaman masa lalu kita turut mempengaruhi. Yang pasti semua ada plus minusnya

      Like

  1. Pingback: Emmy's site

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.