Diarra Queen Lampung, Spa Nyaman dengan Konsep Back to Nature

Grand Opening Diarra Queen Lampung

Pada hari Minggu, 24 Juni 2018 lalu saya bersama rekan-rekan Tapis Blogger hadir pada acara Grand Opening Diarra Queen Spa di Bandar Lampung. Tepatnya beralamat di Jl. Wolter Monginsidi 169A atau di depan Lampung Banana Foster. 

Setelah beberapa sambutan, pemotongan tumpeng oleh owner Diarra Queen Lampung, Mbak Novita Sari, yang memberikan suapan nasi tumpeng untuk kedua orangtuanya, lalu dilanjutkan pemotongan pita oleh Mbak Ike Suharjo yang merupakan owner Diarra Queen pusat yang bertempat di Jakarta. Setelah itu, kami dipersilakan memasuki area spa yang begitu menawan.

Betapa tidak, Diarra Queen Spa memilliki konsep yang unik, yaitu back to the nature, sehingga dekorasi ruangan didominasi oleh warna hijau, cokelat, putih . Tak hanya itu, treatment di spa ini hanya menggunakan bahan-bahan alami yang sudah terdaftar di BPOM. Wah, jadi nggak perlu khawatir untuk melakukan perawatan di sini, kan.

Lalu kami diajak untuk melihat ruangan perawatan untuk laki-laki. Yup. Diarra Queen Spa tak hanya menerima tamu wanita saja. Jadi jika suami mengantarkan istrinya untuk treatment di sini, daripada bosan menunggu, kenapa nggak ikut merasakan nikmatnya spa sekalian. 

Hal yang sama juga berlaku untuk pasangan yang melakukan treatment khusus untuk calon pengantin. Ruangan untuk laki-laki ini berada di lantai satu, terpisah jauh dengan ruangan perawatan untuk wanita.

Setelah itu, lanjut kami menaiki tangga menuju lantai dua. Nah, di lantai dua inilah berada ruang perawatan khusus wanita. Area yang juga steril dari laki-laki ini tentu memiliki sarana prasarana yang lebih lengkap.  Teman-teman bisa melakukan hair treatment, face treatment, body treatment, waxing, slimming, dan lainnya sesuai pilihan. 

Tak hanya untuk dewasa, paket perawatan di Diarra Queen Spa ini juga bisa dinikmati anak-anak dan ibu hamil. Dan tak perlu khawatir, treatment tersebut akan dilakukan oleh terapis khusus yang juga berprofesi sebagai bidan. Luar biasa kan. 

Tenaga terapis di Diarra Queen Spa memang mengkhususkan memegang sesuai bidang masing-masing. Seperti untuk spesialis hair treatment akan berbeda dengan yang melakukan body treatment. Lalu ada juga terapis yang khusus melakukan slimming. Dengan pengkhususan seperti itu, tentu kita lebih yakin bahwa treatment di Diarra Queen Spa hanya dilakukan oleh ahlinya.

Tapis Blogger bersama owner Diarra Queen Spa; Ike Suharjo, Novita Sari, Laily

Setelah puas mengambil gambar dan mewawancara owner Diarra Queen Spa, kami, Tapis Blogger, mendapatkan oleh-oleh berupa dua voucher masing-masing senilai Rp. 100.000 yang bisa kami gunakan untuk perawatan apa saja. 

Wah, senangnya. Saya sampai bingung sendiri mau memilih paket perawatan apa karena yang disediakan sangat beragam dan semuanya menggiurkan. Harganya pun termasuk terjangkau kok untuk spa semewah ini.  Tersedia juga fasilitas member-card, hanya seharga Rp. 50.000 berlaku seumur hidup di seluruh cabang Diarra Queen se-Indonesia.

Oya, biar teman-teman tak perlu mengantri untuk treatment di sini, ada baiknya melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum datang ke spa ini. Caranya dengan menghubungi telepon (0721) 5608844, whatsapp 0821-8282 7252 atau IG @diarraqueenlampung.

Diarra Queen Spa ini buka tiap hari kok, termasuk hari Minggu, dari jam 09.00 sampai dengan jam 18.00.

Simak video liputan Grand Opening Diarra Queen Spa di sini:

https://emm.my.id/wp-content/uploads/2018/07/720_24_3.78_Jul032018.mp4

Treatment di Diarra Queen Spa

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang saya memutuskan untuk treatment di Diarra Queen Spa pada hari Jumat, 29 Juni 2018, jam tiga sore, sepulang dari bekerja. Sebelumnya saya reservasi dulu via WA. Saya ambil salah satu paket yaitu Diarra Korean yang sudah komplit, terdiri dari footbath, full body massage, body compress, body peeling Korean, creambath, milk bath, dan mendapatkan free ginger/hot tea. Selain itu saya juga mau potong rambut sekalian.

Saya sampai terkejut saat salah satu terapis terlebih dulu mengenakan mahkota bunga-bunga di atas kepala saya. Wah, beneran jadi brasa Queen beneran, deh. 

Setelah saya melepas alas kaki, saya diantar ke lantai dua. Di sana sudah tersedia kimono set untuk dikenakan selama melakukan perawatan. Lagi-lagi saya terpesona oleh suasana nyaman yang melingkupi ruangan ini. Lampu yang dibuat temaram, ada wangi aromaterapi yang tercium serta musik instrumental yang lembut memanjakan telinga. 

Dan perawatan pun dimulai. Dari foot bath, body treatment, milk bath, lanjut ke hair treatment. Saya baru tahu juga kalau krim untuk body peeling di sini langsung dari Korea. Tempat berendam di bathtub-nya juga sangat nyaman, sudah disiapkan air hangat. Saking nyamannya sampai saya nggak mau cepat-cepat selesai.

Akhirnya, setelah kurang lebih tiga jam selesai juga deh. Ah, kepala langsung terasa ringan, tubuh pun terasa sangat relaks. Merasa puas dengan pelayanan yang diberikan, saya pun mendaftar untuk menjadi member di Spa ini sekalian. Gimana teman-teman? Tertarik untuk melakukan treatment di Diarra Queen Spa?

Baca juga: https://emm.my.id/2018/07/04/me-time-di-diarra-queen-spa-asyiknya-menjalani-hobi-yang-menghasilkan/

#DiarraQueenLampung

#TapisBlogger

#TapisBloggerXDiarraQueen

Advertisements

Tentang Sosok Cinta Pertama Anak Perempuan (Review “The Most Beloved Man”)

Judul Buku: The Most Beloved Man
Penulis: Kinanti WP, dkk
Penerbit: Stiletto Indie Book
Cetakan: September 2017
ISBN: 978-602-6648-15-0
Kumpulan Cerita Non-Fiksi.

Sinopsis:
Setiap anak perempuan selalu menganggap ayahnya sebagai cinta pertama. Pria pertama yang mengajari tentang kasih tanpa pamrih, melindungi sepenuh jiwa, dan membimbing dengan hati. Sosok yang jarang terlibat namun senantiasa diharapkan keberadaannya.
Buku ini merangkum 29 kisah nyata tentang ayah yang dituliskan dari berbagai sisi. Ditulis oleh 29 perempuan yang begitu menyayangi ayah mereka.

Review:

Berbagai cerita tentang bapak terangkum di buku ini. Yang kesemuanya merupakan kisah nyata dari masing-masing penulis perempuan yang bergabung dalam komunitas KamAksara. Buku ini merupakan antologi kedua yang diterbitkan komunitas menulis khusus perempuan Indonesia.

Apapun sebutannya, bapak, ayah, papa, dsb. Ada yang menceritakan kenangan terakhirnya sebelum sang bapak atau juga mengagumi sosoknya yang begitu berperan penting dalam kehidupan.

Sebut saja cerita yang berjudul “Goresan Rindu untuk Bapak” karya Vera Harefa:
“Bapak, banyak orang yang kehilangan dirimu. Engkau pergi terlalu cepat. Namun mereka semua memiliki kenangan manis bersamamu yang akan mereka kenang sepanjang umur merestui.”

Atau juga cerita lainnya yang berjudul “Dear Bapak” karya Nour Purnawan:
“Meski tahun-tahun sudah berlalu, tapi kenangan tentangnya masih terus hidup dalam setiap sudut dan ruang di rumah kami.”

Ada lagi, “Pria Istimewa” karya Gieska:
“Bapak memang bukanlah seorang pejabat. Beliau juga bukan orang yang luar biasa. Tapi karena beliaulah aku bisa berada di dunia ini.”

Lalu “Cinta Pertamaku” karya Istiqomah Al-Mumtazah:
“Kini aku mengerti arti lamunan Bapak ketika menyiapkan walimahku. Saat itu beliau pasti sedang memikirkan perpisahan ini, membayangkan detik-detik saat Bapak harus meninggalkan gadis kecilnya ini.”

Ada juga cerita tentang “Berdamai dengan Bapak” karya Fuatuttaqwiyah El-Adiba:
“Berdamai dengan Bapak adalah pilihan terbaik. Hatiku tenang. Dendam pun hilang.”

Dan kisah lainnya “Menyayangi Bapak dalam Diam” karya Evi Sidabutar:
“Aku tahu benar bahwa Bapak menyayangi aku walau tidak diungkapkan secara langsung melalui kata-kata. Bapak menunjukkannya melalui perbuatan dan tindakan nyata.”

Jangan lupa, ada cerita yang kutuliskan di sini yaitu “Sepucuk Surat untuk Ayah”:
“Tiada yang bisa menggantikanmu, Ayah. Tidak siapapun.”

Benar bahwa, seorang ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Kehadirannya melengkapi hidup keluarga pada umumnya dan putri kandungnya pada khususnya. Pantaslah 29 cerita yang menjadikan kita terharu dalam mengenang sosok seorang bapak ini akhirnya menjadikan buku ini best seller Indie Stiletto, mengikuti jejak antologi KamAksara sebelumnya, “Jejak Cinta”.

https://youtu.be/I_lMK8pRt7g

Karena Pernikahan Bukanlah “Live Happily Ever After” (Review Buku “Drama Rumah Tangga” karya Wulan Darmanto)

Judul : Drama Rumah Tangga (Catatan Ringan Seorang Ibu)

Penulis: Wulan Darmanto

Penerbit: Kinimedia

Halaman: 230 halaman

Cetakan: November 2016

ISBN: 978-602-60268-0-4

Sinopsis:

Rumah tangga, tak lain dari sebuah drama pementasan. Punya lakon yang bergulir antara tawa dan derita.

Tak pernah ada rumus pasti guna menentukan kelanggengan pernikahan. Tapi akan selalu ada jalan untuk membuat perjalanannya penuh warna.

Wulan menuliskan drama itu dengan sangat manis di buku ini. Masih dengan gaya bertuturnya yang santai dan menggelitik, namun kaya makna.

Membuat siapapun Anda tak hanya belajar, namun juga sangat menikmati sebuah pagelaran besar bernama rumah tangga.

Review:

Drama Rumah Tangga, berisi kumpulan kisah yang memberikan gambaran bagaimana kehidupan setelah berumah tangga yang sebenarnya dari sudut pandang seorang ibu. Banyak orang salah mengira mengharapkan pernikahan berarti cerita akhir dari cinta. Apalagi dalam cerita dongeng, seringkali pernikahan mempunyai makna; and they live happily ever after. Itu semua salah besar!

Mbak Wulan memberikan gambaran yang tepat berasal dari pengalamannya sebagai seorang istri dan ibu. Lihat saja dari daftar isi antara lain; Hujan Tangis Di Awal Pernikahan, Tinggal Di Mana Setelah Menikah? Tantangan Itu Bernama Ipar, Perempuan Harus Pintar Masak, dll. Dan masih banyak sederet masalah lain yang siap menghadap setelah kita resmi berumah tangga.

Dengan bahasanya yang mengalir khas ibu-ibu akan memudahkan kita dalam memahami nasihat yang tertera di buku ini. Seperti bagaimana cara menghadapi mertua dan ipar, haruskah bekerja atau tidak bekerja setelah menikah. Kemudian bagaimana menghadapi kalau tidak juga diberi momongan setelah menikah atau bagi yang sudah punya anak namun hanya memperoleh anak laki-laki saja atau anak perempuan saja.

Selain itu, Mbak Wulan juga menjelaskan pentingnya kita sebagai ibu-ibu untuk merawat diri, mengajarkan cara mengatur keuangan dalam rumah tangga dan menyadari pentingnya peranan kita sebagai ibu sebagai madrasah pertama bagi keluarga.

Tapi jangan khawatir, pembahasan dalam buku ini cukup ringan namun berbobot. Sehingga tak akan menjadikan kita menganggap peranan seorang ibu bagai momok yang memaksa kita, para ibu untuk selalu tampil sempurna. Dalam bab Tak Harus Menjadi Ibu Peri, Mbak Wulan mengajarkan kita untuk menghadapi realita bahwa memang menjadi ibu tak semudah teori.

Maka layaknya kita berhenti membandingkan diri dengan ibu lainnya, dengan rumah tangga orang lain. Apalagi zamannya semua bersosial media di mana orang seolah berlomba-lomba untuk pamer, unjuk kehebatan. Dari mulai pamer botol asi perah, masakan, perkembangan anak hingga romantisme dengan suaminya. Tak urung ajang pamer tersebut menjadikan ibu yang lain seakan tak sempurna karena gagal memberi ASI misalnya. Padahal tidak ada rumah tangga yang sempurna di dunia ini karena memang tidak ada manusia yang sempurna.

Sedikit curhat, saya pribadi juga tercerahkan setelah membaca bab ini, karena saya dulunya termasuk yang merasa gagal menjadi seorang ibu, sudah gagal melahirkan normal juga gagal memberikan asi eksklusif pada anak pertama saya.

Akhirnya dengan membaca buku ini, akan membuat kita tersadar pada realita kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya tanpa menjadi takut atau trauma untuk menikah. Karena berumah tangga adalah proses pendewasaan dan setiap masalah pasti ada jalan keluar.

Ketika Dua Insan Disatukan Melalui Lukisan (Review Novel “Dear Sweetheart” karya Mak Sulis)

Judul: Dear Sweetheart

Penulis: Sulistyowati

Penerbit: Cabaca

Ayana melangkah menyusuri koridor menuju ke kelas saat matanya menangkap sosok kurus sahabatnya dari kejauhan.
“Nit, tunggu!” Tanpa berpikir panjang Ayana berlari kecil mengejar Nita yang terlihat berbelok di tikungan koridor.
Karena berlari, Ayana tidak memperhatikan jarak persimpangan antara dia dan seseorang yang juga membawa lukisan. Pandangan Ayana fokus menatap tikungan di mana Nita berbelok, hingga akhirnya, tanpa sengaja lengannya menyenggol lengan lelaki itu.

Apa pendapat kalian mengenai tulisan ini? Buat penasaran, kan? Pingin tahu akhirnya gimana, kan?

Hal yang sama yang terbersit olehku saat pertama kalinya membaca novel teenlit buah karya Mak Sulistyowati ini. Bahasanya enak dibaca dan begitu mengalir. Ide ceritanya juga unik. Pertemuan dua insan remaja yang dimulai dari tabrakan tak sengaja sehingga menjatuhkan sebuah lukisan salah satunya. Heyaaa, buat baper kan?

Pokoknya Mak Sulis emang jagonya buat teenlit deh. Karakternya ngena banget, berjiwa muda. Nggak cuma karakter tokoh utamanya, tapi juga tokoh-tokoh lainnya.

Aku juga suka idenya mengangkat sosok pelukis misterius. Entah mengapa yang ada di benakku langsung tergambar bayangan Van Gogh atau Leonardo da Vinci dengan Senyum Monalisa-nya, eaaa. Hmm, jadi penasaran deh.

Kalaupun ada kekurangan. Hanya karena banyaknya tokoh di dalam cerita ini sehingga otakku yang rada lemot kadang harus membaca ulang satu bab agar lebih mampu memahami 😅 Tapi itu sepenuhnya karena kekurangan diriku pribadi yang mungkin sudah mulai lemot dalam berpikir. 😑😑

Seru kali ya kalau cerita di sini difilmkan nantinya. 😘

Mungkin teman-teman yang lain punya pendapat yang berbeda.

Silakan baca di sini:

http://adm.cabaca.id:2000/novel/detail/3/title/Dear%20Sweetheart-Dear%20Sweetheart

Untuk yang baru mulai install Cabaca, yuk dapetin kerang gratis dengan masukkan kode saya Emmy2153

Manusia yang Tak Bisa Merasakan Sakit (Review Painless karya Subetty)

Judul: Painless

Penulis: Betty

Penerbit: cabaca

Adalah hal yang wajar bila setiap manusia bisa merasakan kesakitan. Itu adalah bukti bahwa sistem syarafnya bekerja dengan baik.

Lantas bagaimana dengan manusia yang tak bisa merasakan sakit?

Adalah Nira, seorang remaja SMU. Sejak kecil dia ternyata menderita yang menjadikannya tak mampu merasakan sakit. Masalahnya dia memiliki rasa ingin tahu yang besar dan menyukai hal-hal yang membuatnya merasa tertantang. Yeah, namanya juga teenager.

Ide cerita teenlit yang diangkat oleh penulis Subetty ini tergolong unik. Karena nggak biasanya ada cerita apalagi yang bergenre teenlit mengangkat suatu kelainan tertentu. Tapi karena kemampuan penulis menyajikan cerita dengan bahasa yang begitu mengalir ditambah latar belakangnya yang nota benenya seorang dokter, cerita ini menjadi enak dibaca dan pantas dijadikan salah satu koleksi bacaan kalian.

Langsung saja cuzz linknya di sini ya

http://cabaca.id/#/book/37

Untuk yang baru mulai install Cabaca, yuk dapetin kerang gratis dengan masukkan kode saya Emmy2153

Kisah Teenlit yang Berpadu Genre Horror (Review Bangku Pojok karya Honey Dee)

Judul: Bangku Pojok

Penulis: Honey Dee

Penerbit: Cabaca

Kalila berpikir pindah ke kota lain bisa membuat bayangan hitam yang memgikutinya hilang. Ternyata justru dia makin sering mengalami masalah dengan makhluk tak kasat mata. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan berada di sekolah baru itu adalah kehadiran Rosaleen, cewek yang duduk di bangku angker kelas sebelah, bangku pojok.

Pertama tahu kalau cerita ini genre horror, jujur aja, saya nggak langsung baca 😅 Aslinya mah saya penakut. Walaupun memang sebenarnya saya ada ketertarikan juga nulis cerita hantu gitu, merasa tertantang walaupun takut. Hihihi 😁

Tapi, setelah saya baca sinopsisnya, wah ternyata genre teenlit tho. Jadi merasa tertarik nih. Dan saya sudah menyengajakan diri baca di siang bolong untuk mengurangi ketakutan.

Pas udah nyemplung baca satu bab demi satu bab. Ceritanya ternyata menarik 😁😁 Ya iyalah, yang nulis kan mentor fiksi saya 😘

Jadi kebayang hidup seperti Kalila yang ternyata sifatnya nggak jauh2 beda dari sifat saya. (Halah) Kelihatan banget introvertnya. Suka menyendiri, suka membaca, trus canggung kalau diperhatikan lama oleh banyak orang.

Tapi pantaslah kalau anak yang baru pindah sekolah dengan alasan dikejar bayangan hitam berperilaku demikian. Hmm, jadi penasaran deh sama kelanjutannya. Pengen tahu juga sejarahnya Rosaleen itu bagaimana. Heyaaa.

Baca sendiri aja deh di sini.

http://cabaca.id/#/book/38

Untuk yang baru mulai install Cabaca, yuk dapetin kerang gratis dengan masukkan kode saya Emmy2153

Antara Cinta dan Cita-cita (Review Wish Upon A Star karya Eve Natka)

Judul: Wish Upon A Star

Penulis: Eve Natka

Penerbit: Cabaca

Ini adalah salah satu cerita teenlit yang menarik deh. Coba dibaca:

“Semua orang punya bakat dan minat yang berbeda.” Ibu tidak pernah meminta Katia untuk menjadi juara kelas, pun tak pernah memarahi jika nilainya turun. Tapi, justru itulah yang membuatnya merasa terbebani. Bagaimanapun Katia harus kuliah tahun ini. Namun, ibunya yang berstatus janda, juga adiknya yang akan masuk SMA membuat pikirannya semakin kalut.
Di tengah usaha Katia mencari beasiswa di sekolahnya, dirinya dipertemukan dengan seorang pemuda benama Joshe. Joshe adalah siswa teladan yang ditunjuk kepala sekolahnya untuk mengajari Katia mengenai Fisika. Bagi Katia, dia adalah orang yang menyebalkan. Bahkan pada pertemuan pertama mereka. Sifat tertutup Katia dan sifat pendiam Joshe tentu membuat keduanya berada dalam masa-masa sulit saat bersama. Namun, masa-masa itulah yang membuat Katia dan Joshe semakin dekat dan terbuka.

http://adm.cabaca.id:2000/novel/detail/25/title/Wish%20Upon%20A%20Star-Wish%20Upon%20A%20Star

Sesuai kisah Teenlit pada umumnya, cerita tentang Katia ini mengisahkan tentang perjuangan dia mencapai cita-cita, mau melanjutkan kuliah di mana selepas SMU, juga diselipkan kisah cinta segitiga antara dia, tutor sebayanya Joshe dan juga sahabatnya dari SMP, Ben.

Menariknya peminatan Katia ternyata sama seperti Ben, yaitu sama-sama di bidang musik.

Di sisi lain, aku jadi kasian sama Joshe. Ternyata meskipun dia menjadi anak cerdas di segala bidang tak cukup utk membuatnya bahagia, karena….

Ah, baca sendiri aja deh. Dijamin kamu nggak bakal rela naro HP kali udah kesedot sama alur ceritanya. Hihihi

Untuk yang baru mulai install Cabaca, yuk dapetin kerang gratis dengan masukkan kode saya Emmy2153