Ketika Bookaholic Merelakan Koleksi Bukunya

Ketika Bookaholic Merelakan Koleksi Bukunya

“Apa cita-citamu waktu kecil, Em?”
“Ingin punya perpustakaan pribadi!”

Beberapa teman mungkin sudah tahu cita-citaku yang satu ini. Bahkan sebagai buktinya, ketika SMA kuwujudkanlah mimpi itu. Sedikit demi sedikit kukumpulkan buku dari sisa uang jajan.

Jika ada teman yang meminjam, akan kusarankan gabung jadi anggota dulu (bayar keanggotaan hanya seribu rupiah, harga damai, hihihi), meminjam dalam jangka waktu tertentu, jika telat kukenakan denda. 😄

Begitulah. Dalam benakku terbayang satu ruangan dipenuhi buku-buku. Tak hanya itu, semua bisa membaca ditemani lantunan musik yang indah. Trus di sebelahnya ada sebuah kafe, lengkap dengan musala. Apalagi mimpi itu sudah ada sejak aku duduk di bangku sekolah dasar.

Hingga saat ini, tempat bukuku masih berupa satu rak, karena ruangannya belum ada, ujungnya banyak yang dikardusin bukunya.

Iya, setelah berhadapan dengan kenyataan, ternyata begitu sulit ya untuk mempunyai sebuah bangunan khusus untuk buku.

Untuk mempunyai tempat tinggal saja perlu perjuangan, apalagi mau tambah satu bangunan lagi untuk perpustakaan. Belum lagi masalah terbesarku: membagi waktu.

Setiap harinya waktu 24 jam sehari brasa nggak cukup. Selalu seperti itu. Rasanya masih belum bisa membayangkan meluangkan waktu untuk hal lain.

Koleksi bukuku lama meringkuk di pojokan. Sedih melihatnya penuh debu tak terurus. Sementara buku baru terus berdatangan, apalagi sudah ditambah buku yang ada tulisan sendiri juga. Huwaaa 😍

Trus, gimana dong?
Apa yang harus kulakukan dengan bukuku? Apa yang harus kulakukan dengan impianku? Jawabannya adalah Acceptance. Terima dan hadapi kenyataan.

Coba deh, kurenungkan sejenak. Kenapa sih, aku ingin punya perpustakaan pribadi?

Agar buku yang kumiliki bisa dibaca lebih banyak orang dan menjangkau lebih luas lagi, kaan. Karena begitu besarnya kecintaanku pada buku.

Bukankah itu juga yang menjadi visi misi sebuah taman baca?

Ya sudah, daripada membiarkan buku-buku ini teronggok menjadi energi basi, kenapa tidak sedikit demi sedikit menyalurkan koleksi bukuku pada taman baca.

Dari suatu komunitas blogger, aku mengenal beberapa teman yang sudah mengelola taman baca. Ingin iri, tapi toh iri doang bukan solusi. Hihihi.

Jadi, mulailah aku beranikan diri melepas buku-buku kesayanganku. Ternyata, bukan hal mudah lho bagiku. Apalagi banyak juga buku yang sudah kurawat sebaik-baiknya, minimal bersampul plastik. Selama ini aku pun selalu melarang adanya lipatan kertas pada bukuku ketika ada teman yang meminjamnya. Pakai pembatas buku dong, biar nggak perlu lipet-lipet kertas.

Dari awalnya majalah yang kurelakan merambah ke buku lainnya. Dari komik dan buku anak-anak, merambah ke buku dewasa juga. Yang pasti aku sayang semua koleksi bukuku. Mereka lebih pantas berada di tangan pembaca yang lebih membutuhkan.

So, supaya lebih luas menjangkau masyarakat. Supaya lebih bermanfaat untuk mensukseskan gerakan gemar membaca, aku titip impianku yaa … taman baca.

Koleksi Bukuku Tlah Merambah ke Beberapa Taman Baca

#tulisanemmy

Diarra Queen Lampung, Spa Nyaman dengan Konsep Back to Nature

Grand Opening Diarra Queen Lampung

Pada hari Minggu, 24 Juni 2018 lalu saya bersama rekan-rekan Tapis Blogger hadir pada acara Grand Opening Diarra Queen Spa di Bandar Lampung. Tepatnya beralamat di Jl. Wolter Monginsidi 169A atau di depan Lampung Banana Foster. 

Setelah beberapa sambutan, pemotongan tumpeng oleh owner Diarra Queen Lampung, Mbak Novita Sari, yang memberikan suapan nasi tumpeng untuk kedua orangtuanya, lalu dilanjutkan pemotongan pita oleh Mbak Ike Suharjo yang merupakan owner Diarra Queen pusat yang bertempat di Jakarta. Setelah itu, kami dipersilakan memasuki area spa yang begitu menawan.

Betapa tidak, Diarra Queen Spa memilliki konsep yang unik, yaitu back to the nature, sehingga dekorasi ruangan didominasi oleh warna hijau, cokelat, putih . Tak hanya itu, treatment di spa ini hanya menggunakan bahan-bahan alami yang sudah terdaftar di BPOM. Wah, jadi nggak perlu khawatir untuk melakukan perawatan di sini, kan.

Lalu kami diajak untuk melihat ruangan perawatan untuk laki-laki. Yup. Diarra Queen Spa tak hanya menerima tamu wanita saja. Jadi jika suami mengantarkan istrinya untuk treatment di sini, daripada bosan menunggu, kenapa nggak ikut merasakan nikmatnya spa sekalian. 

Hal yang sama juga berlaku untuk pasangan yang melakukan treatment khusus untuk calon pengantin. Ruangan untuk laki-laki ini berada di lantai satu, terpisah jauh dengan ruangan perawatan untuk wanita.

Setelah itu, lanjut kami menaiki tangga menuju lantai dua. Nah, di lantai dua inilah berada ruang perawatan khusus wanita. Area yang juga steril dari laki-laki ini tentu memiliki sarana prasarana yang lebih lengkap.  Teman-teman bisa melakukan hair treatment, face treatment, body treatment, waxing, slimming, dan lainnya sesuai pilihan. 

Tak hanya untuk dewasa, paket perawatan di Diarra Queen Spa ini juga bisa dinikmati anak-anak dan ibu hamil. Dan tak perlu khawatir, treatment tersebut akan dilakukan oleh terapis khusus yang juga berprofesi sebagai bidan. Luar biasa kan. 

Tenaga terapis di Diarra Queen Spa memang mengkhususkan memegang sesuai bidang masing-masing. Seperti untuk spesialis hair treatment akan berbeda dengan yang melakukan body treatment. Lalu ada juga terapis yang khusus melakukan slimming. Dengan pengkhususan seperti itu, tentu kita lebih yakin bahwa treatment di Diarra Queen Spa hanya dilakukan oleh ahlinya.

Tapis Blogger bersama owner Diarra Queen Spa; Ike Suharjo, Novita Sari, Laily

Setelah puas mengambil gambar dan mewawancara owner Diarra Queen Spa, kami, Tapis Blogger, mendapatkan oleh-oleh berupa dua voucher masing-masing senilai Rp. 100.000 yang bisa kami gunakan untuk perawatan apa saja. 

Wah, senangnya. Saya sampai bingung sendiri mau memilih paket perawatan apa karena yang disediakan sangat beragam dan semuanya menggiurkan. Harganya pun termasuk terjangkau kok untuk spa semewah ini.  Tersedia juga fasilitas member-card, hanya seharga Rp. 50.000 berlaku seumur hidup di seluruh cabang Diarra Queen se-Indonesia.

Oya, biar teman-teman tak perlu mengantri untuk treatment di sini, ada baiknya melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum datang ke spa ini. Caranya dengan menghubungi telepon (0721) 5608844, whatsapp 0821-8282 7252 atau IG @diarraqueenlampung.

Diarra Queen Spa ini buka tiap hari kok, termasuk hari Minggu, dari jam 09.00 sampai dengan jam 18.00.

Simak video liputan Grand Opening Diarra Queen Spa di sini:

https://emm.my.id/wp-content/uploads/2018/07/720_24_3.78_Jul032018.mp4

Treatment di Diarra Queen Spa

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang saya memutuskan untuk treatment di Diarra Queen Spa pada hari Jumat, 29 Juni 2018, jam tiga sore, sepulang dari bekerja. Sebelumnya saya reservasi dulu via WA. Saya ambil salah satu paket yaitu Diarra Korean yang sudah komplit, terdiri dari footbath, full body massage, body compress, body peeling Korean, creambath, milk bath, dan mendapatkan free ginger/hot tea. Selain itu saya juga mau potong rambut sekalian.

Saya sampai terkejut saat salah satu terapis terlebih dulu mengenakan mahkota bunga-bunga di atas kepala saya. Wah, beneran jadi brasa Queen beneran, deh. 

Setelah saya melepas alas kaki, saya diantar ke lantai dua. Di sana sudah tersedia kimono set untuk dikenakan selama melakukan perawatan. Lagi-lagi saya terpesona oleh suasana nyaman yang melingkupi ruangan ini. Lampu yang dibuat temaram, ada wangi aromaterapi yang tercium serta musik instrumental yang lembut memanjakan telinga. 

Dan perawatan pun dimulai. Dari foot bath, body treatment, milk bath, lanjut ke hair treatment. Saya baru tahu juga kalau krim untuk body peeling di sini langsung dari Korea. Tempat berendam di bathtub-nya juga sangat nyaman, sudah disiapkan air hangat. Saking nyamannya sampai saya nggak mau cepat-cepat selesai.

Akhirnya, setelah kurang lebih tiga jam selesai juga deh. Ah, kepala langsung terasa ringan, tubuh pun terasa sangat relaks. Merasa puas dengan pelayanan yang diberikan, saya pun mendaftar untuk menjadi member di Spa ini sekalian. Gimana teman-teman? Tertarik untuk melakukan treatment di Diarra Queen Spa?

Baca juga: https://emm.my.id/2018/07/04/me-time-di-diarra-queen-spa-asyiknya-menjalani-hobi-yang-menghasilkan/

#DiarraQueenLampung

#TapisBlogger

#TapisBloggerXDiarraQueen

Tentang Sosok Cinta Pertama Anak Perempuan (Review “The Most Beloved Man”)

Judul Buku: The Most Beloved Man
Penulis: Kinanti WP, dkk
Penerbit: Stiletto Indie Book
Cetakan: September 2017
ISBN: 978-602-6648-15-0
Kumpulan Cerita Non-Fiksi.

Sinopsis:
Setiap anak perempuan selalu menganggap ayahnya sebagai cinta pertama. Pria pertama yang mengajari tentang kasih tanpa pamrih, melindungi sepenuh jiwa, dan membimbing dengan hati. Sosok yang jarang terlibat namun senantiasa diharapkan keberadaannya.
Buku ini merangkum 29 kisah nyata tentang ayah yang dituliskan dari berbagai sisi. Ditulis oleh 29 perempuan yang begitu menyayangi ayah mereka.

Review:

Berbagai cerita tentang bapak terangkum di buku ini. Yang kesemuanya merupakan kisah nyata dari masing-masing penulis perempuan yang bergabung dalam komunitas KamAksara. Buku ini merupakan antologi kedua yang diterbitkan komunitas menulis khusus perempuan Indonesia.

Apapun sebutannya, bapak, ayah, papa, dsb. Ada yang menceritakan kenangan terakhirnya sebelum sang bapak atau juga mengagumi sosoknya yang begitu berperan penting dalam kehidupan.

Sebut saja cerita yang berjudul “Goresan Rindu untuk Bapak” karya Vera Harefa:
“Bapak, banyak orang yang kehilangan dirimu. Engkau pergi terlalu cepat. Namun mereka semua memiliki kenangan manis bersamamu yang akan mereka kenang sepanjang umur merestui.”

Atau juga cerita lainnya yang berjudul “Dear Bapak” karya Nour Purnawan:
“Meski tahun-tahun sudah berlalu, tapi kenangan tentangnya masih terus hidup dalam setiap sudut dan ruang di rumah kami.”

Ada lagi, “Pria Istimewa” karya Gieska:
“Bapak memang bukanlah seorang pejabat. Beliau juga bukan orang yang luar biasa. Tapi karena beliaulah aku bisa berada di dunia ini.”

Lalu “Cinta Pertamaku” karya Istiqomah Al-Mumtazah:
“Kini aku mengerti arti lamunan Bapak ketika menyiapkan walimahku. Saat itu beliau pasti sedang memikirkan perpisahan ini, membayangkan detik-detik saat Bapak harus meninggalkan gadis kecilnya ini.”

Ada juga cerita tentang “Berdamai dengan Bapak” karya Fuatuttaqwiyah El-Adiba:
“Berdamai dengan Bapak adalah pilihan terbaik. Hatiku tenang. Dendam pun hilang.”

Dan kisah lainnya “Menyayangi Bapak dalam Diam” karya Evi Sidabutar:
“Aku tahu benar bahwa Bapak menyayangi aku walau tidak diungkapkan secara langsung melalui kata-kata. Bapak menunjukkannya melalui perbuatan dan tindakan nyata.”

Jangan lupa, ada cerita yang kutuliskan di sini yaitu “Sepucuk Surat untuk Ayah”:
“Tiada yang bisa menggantikanmu, Ayah. Tidak siapapun.”

Benar bahwa, seorang ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Kehadirannya melengkapi hidup keluarga pada umumnya dan putri kandungnya pada khususnya. Pantaslah 29 cerita yang menjadikan kita terharu dalam mengenang sosok seorang bapak ini akhirnya menjadikan buku ini best seller Indie Stiletto, mengikuti jejak antologi KamAksara sebelumnya, “Jejak Cinta”.

https://youtu.be/I_lMK8pRt7g

Karena Pernikahan Bukanlah “Live Happily Ever After” (Review Buku “Drama Rumah Tangga” karya Wulan Darmanto)

Judul : Drama Rumah Tangga (Catatan Ringan Seorang Ibu)

Penulis: Wulan Darmanto

Penerbit: Kinimedia

Halaman: 230 halaman

Cetakan: November 2016

ISBN: 978-602-60268-0-4

Sinopsis:

Rumah tangga, tak lain dari sebuah drama pementasan. Punya lakon yang bergulir antara tawa dan derita.

Tak pernah ada rumus pasti guna menentukan kelanggengan pernikahan. Tapi akan selalu ada jalan untuk membuat perjalanannya penuh warna.

Wulan menuliskan drama itu dengan sangat manis di buku ini. Masih dengan gaya bertuturnya yang santai dan menggelitik, namun kaya makna.

Membuat siapapun Anda tak hanya belajar, namun juga sangat menikmati sebuah pagelaran besar bernama rumah tangga.

Review:

Drama Rumah Tangga, berisi kumpulan kisah yang memberikan gambaran bagaimana kehidupan setelah berumah tangga yang sebenarnya dari sudut pandang seorang ibu. Banyak orang salah mengira mengharapkan pernikahan berarti cerita akhir dari cinta. Apalagi dalam cerita dongeng, seringkali pernikahan mempunyai makna; and they live happily ever after. Itu semua salah besar!

Mbak Wulan memberikan gambaran yang tepat berasal dari pengalamannya sebagai seorang istri dan ibu. Lihat saja dari daftar isi antara lain; Hujan Tangis Di Awal Pernikahan, Tinggal Di Mana Setelah Menikah? Tantangan Itu Bernama Ipar, Perempuan Harus Pintar Masak, dll. Dan masih banyak sederet masalah lain yang siap menghadap setelah kita resmi berumah tangga.

Dengan bahasanya yang mengalir khas ibu-ibu akan memudahkan kita dalam memahami nasihat yang tertera di buku ini. Seperti bagaimana cara menghadapi mertua dan ipar, haruskah bekerja atau tidak bekerja setelah menikah. Kemudian bagaimana menghadapi kalau tidak juga diberi momongan setelah menikah atau bagi yang sudah punya anak namun hanya memperoleh anak laki-laki saja atau anak perempuan saja.

Selain itu, Mbak Wulan juga menjelaskan pentingnya kita sebagai ibu-ibu untuk merawat diri, mengajarkan cara mengatur keuangan dalam rumah tangga dan menyadari pentingnya peranan kita sebagai ibu sebagai madrasah pertama bagi keluarga.

Tapi jangan khawatir, pembahasan dalam buku ini cukup ringan namun berbobot. Sehingga tak akan menjadikan kita menganggap peranan seorang ibu bagai momok yang memaksa kita, para ibu untuk selalu tampil sempurna. Dalam bab Tak Harus Menjadi Ibu Peri, Mbak Wulan mengajarkan kita untuk menghadapi realita bahwa memang menjadi ibu tak semudah teori.

Maka layaknya kita berhenti membandingkan diri dengan ibu lainnya, dengan rumah tangga orang lain. Apalagi zamannya semua bersosial media di mana orang seolah berlomba-lomba untuk pamer, unjuk kehebatan. Dari mulai pamer botol asi perah, masakan, perkembangan anak hingga romantisme dengan suaminya. Tak urung ajang pamer tersebut menjadikan ibu yang lain seakan tak sempurna karena gagal memberi ASI misalnya. Padahal tidak ada rumah tangga yang sempurna di dunia ini karena memang tidak ada manusia yang sempurna.

Sedikit curhat, saya pribadi juga tercerahkan setelah membaca bab ini, karena saya dulunya termasuk yang merasa gagal menjadi seorang ibu, sudah gagal melahirkan normal juga gagal memberikan asi eksklusif pada anak pertama saya.

Akhirnya dengan membaca buku ini, akan membuat kita tersadar pada realita kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya tanpa menjadi takut atau trauma untuk menikah. Karena berumah tangga adalah proses pendewasaan dan setiap masalah pasti ada jalan keluar.

Ketika Dua Insan Disatukan Melalui Lukisan (Review Novel “Dear Sweetheart” karya Mak Sulis)

Judul: Dear Sweetheart

Penulis: Sulistyowati

Penerbit: Cabaca

Ayana melangkah menyusuri koridor menuju ke kelas saat matanya menangkap sosok kurus sahabatnya dari kejauhan.
“Nit, tunggu!” Tanpa berpikir panjang Ayana berlari kecil mengejar Nita yang terlihat berbelok di tikungan koridor.
Karena berlari, Ayana tidak memperhatikan jarak persimpangan antara dia dan seseorang yang juga membawa lukisan. Pandangan Ayana fokus menatap tikungan di mana Nita berbelok, hingga akhirnya, tanpa sengaja lengannya menyenggol lengan lelaki itu.

Apa pendapat kalian mengenai tulisan ini? Buat penasaran, kan? Pingin tahu akhirnya gimana, kan?

Hal yang sama yang terbersit olehku saat pertama kalinya membaca novel teenlit buah karya Mak Sulistyowati ini. Bahasanya enak dibaca dan begitu mengalir. Ide ceritanya juga unik. Pertemuan dua insan remaja yang dimulai dari tabrakan tak sengaja sehingga menjatuhkan sebuah lukisan salah satunya. Heyaaa, buat baper kan?

Pokoknya Mak Sulis emang jagonya buat teenlit deh. Karakternya ngena banget, berjiwa muda. Nggak cuma karakter tokoh utamanya, tapi juga tokoh-tokoh lainnya.

Aku juga suka idenya mengangkat sosok pelukis misterius. Entah mengapa yang ada di benakku langsung tergambar bayangan Van Gogh atau Leonardo da Vinci dengan Senyum Monalisa-nya, eaaa. Hmm, jadi penasaran deh.

Kalaupun ada kekurangan. Hanya karena banyaknya tokoh di dalam cerita ini sehingga otakku yang rada lemot kadang harus membaca ulang satu bab agar lebih mampu memahami 😅 Tapi itu sepenuhnya karena kekurangan diriku pribadi yang mungkin sudah mulai lemot dalam berpikir. 😑😑

Seru kali ya kalau cerita di sini difilmkan nantinya. 😘

Mungkin teman-teman yang lain punya pendapat yang berbeda.

Silakan baca di sini:

http://adm.cabaca.id:2000/novel/detail/3/title/Dear%20Sweetheart-Dear%20Sweetheart

Untuk yang baru mulai install Cabaca, yuk dapetin kerang gratis dengan masukkan kode saya Emmy2153

Manusia yang Tak Bisa Merasakan Sakit (Review Painless karya Subetty)

Judul: Painless

Penulis: Betty

Penerbit: cabaca

Adalah hal yang wajar bila setiap manusia bisa merasakan kesakitan. Itu adalah bukti bahwa sistem syarafnya bekerja dengan baik.

Lantas bagaimana dengan manusia yang tak bisa merasakan sakit?

Adalah Nira, seorang remaja SMU. Sejak kecil dia ternyata menderita yang menjadikannya tak mampu merasakan sakit. Masalahnya dia memiliki rasa ingin tahu yang besar dan menyukai hal-hal yang membuatnya merasa tertantang. Yeah, namanya juga teenager.

Ide cerita teenlit yang diangkat oleh penulis Subetty ini tergolong unik. Karena nggak biasanya ada cerita apalagi yang bergenre teenlit mengangkat suatu kelainan tertentu. Tapi karena kemampuan penulis menyajikan cerita dengan bahasa yang begitu mengalir ditambah latar belakangnya yang nota benenya seorang dokter, cerita ini menjadi enak dibaca dan pantas dijadikan salah satu koleksi bacaan kalian.

Langsung saja cuzz linknya di sini ya

http://cabaca.id/#/book/37

Untuk yang baru mulai install Cabaca, yuk dapetin kerang gratis dengan masukkan kode saya Emmy2153

Kisah Teenlit yang Berpadu Genre Horror (Review Bangku Pojok karya Honey Dee)

Judul: Bangku Pojok

Penulis: Honey Dee

Penerbit: Cabaca

Kalila berpikir pindah ke kota lain bisa membuat bayangan hitam yang memgikutinya hilang. Ternyata justru dia makin sering mengalami masalah dengan makhluk tak kasat mata. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan berada di sekolah baru itu adalah kehadiran Rosaleen, cewek yang duduk di bangku angker kelas sebelah, bangku pojok.

Pertama tahu kalau cerita ini genre horror, jujur aja, saya nggak langsung baca 😅 Aslinya mah saya penakut. Walaupun memang sebenarnya saya ada ketertarikan juga nulis cerita hantu gitu, merasa tertantang walaupun takut. Hihihi 😁

Tapi, setelah saya baca sinopsisnya, wah ternyata genre teenlit tho. Jadi merasa tertarik nih. Dan saya sudah menyengajakan diri baca di siang bolong untuk mengurangi ketakutan.

Pas udah nyemplung baca satu bab demi satu bab. Ceritanya ternyata menarik 😁😁 Ya iyalah, yang nulis kan mentor fiksi saya 😘

Jadi kebayang hidup seperti Kalila yang ternyata sifatnya nggak jauh2 beda dari sifat saya. (Halah) Kelihatan banget introvertnya. Suka menyendiri, suka membaca, trus canggung kalau diperhatikan lama oleh banyak orang.

Tapi pantaslah kalau anak yang baru pindah sekolah dengan alasan dikejar bayangan hitam berperilaku demikian. Hmm, jadi penasaran deh sama kelanjutannya. Pengen tahu juga sejarahnya Rosaleen itu bagaimana. Heyaaa.

Baca sendiri aja deh di sini.

http://cabaca.id/#/book/38

Untuk yang baru mulai install Cabaca, yuk dapetin kerang gratis dengan masukkan kode saya Emmy2153

Antara Cinta dan Cita-cita (Review Wish Upon A Star karya Eve Natka)

Judul: Wish Upon A Star

Penulis: Eve Natka

Penerbit: Cabaca

Ini adalah salah satu cerita teenlit yang menarik deh. Coba dibaca:

“Semua orang punya bakat dan minat yang berbeda.” Ibu tidak pernah meminta Katia untuk menjadi juara kelas, pun tak pernah memarahi jika nilainya turun. Tapi, justru itulah yang membuatnya merasa terbebani. Bagaimanapun Katia harus kuliah tahun ini. Namun, ibunya yang berstatus janda, juga adiknya yang akan masuk SMA membuat pikirannya semakin kalut.
Di tengah usaha Katia mencari beasiswa di sekolahnya, dirinya dipertemukan dengan seorang pemuda benama Joshe. Joshe adalah siswa teladan yang ditunjuk kepala sekolahnya untuk mengajari Katia mengenai Fisika. Bagi Katia, dia adalah orang yang menyebalkan. Bahkan pada pertemuan pertama mereka. Sifat tertutup Katia dan sifat pendiam Joshe tentu membuat keduanya berada dalam masa-masa sulit saat bersama. Namun, masa-masa itulah yang membuat Katia dan Joshe semakin dekat dan terbuka.

http://adm.cabaca.id:2000/novel/detail/25/title/Wish%20Upon%20A%20Star-Wish%20Upon%20A%20Star

Sesuai kisah Teenlit pada umumnya, cerita tentang Katia ini mengisahkan tentang perjuangan dia mencapai cita-cita, mau melanjutkan kuliah di mana selepas SMU, juga diselipkan kisah cinta segitiga antara dia, tutor sebayanya Joshe dan juga sahabatnya dari SMP, Ben.

Menariknya peminatan Katia ternyata sama seperti Ben, yaitu sama-sama di bidang musik.

Di sisi lain, aku jadi kasian sama Joshe. Ternyata meskipun dia menjadi anak cerdas di segala bidang tak cukup utk membuatnya bahagia, karena….

Ah, baca sendiri aja deh. Dijamin kamu nggak bakal rela naro HP kali udah kesedot sama alur ceritanya. Hihihi

Untuk yang baru mulai install Cabaca, yuk dapetin kerang gratis dengan masukkan kode saya Emmy2153

Bunga yang Selalu Mekar di Pukul Empat

Keindahan flora tak hanya biasa dimanfaatkan sebagai tanaman hias tapi juga bisa menjadi penanda ciri khas daerah tertentu. Seperti bunga melati yang menjadi ciri khas negara kita, tiap provinsi di Indonesia sendiri juga mempunyai bunga khasnya masing-masing. Misalnya bunga Kenanga yang menjadi bunga khas Sumatera Utara, bunga Jeumpa yang menjadi maskot Aceh, Rafflesia Arnoldi dari Bengkulu, bunga Kasturi dari Kalimantan Selatan, Cempaka Hutan dari Sulawesi Barat dan bunga Majegau yang merupakan ciri khas Bali. Tapi, tahukan kamu bunga apa yang menjadi flora khas Provinsi Lampung?

Ternyata bunga yang ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Lampung adalah Bunga Ashar. Bunga yang juga dikenal sebagai kembang pukul empat ini mempunyai nama latin Mirabilis jalapa L. Bunga yang juga dinamakan kembang pukul empat ini memang memiliki kebiasaan mekar pada sore hari sekitar pukul empat. Sehingga pada zaman dahulu masyarakat Lampung sering menggunakannya sebagai pertanda masuknya waktu Ashar.

Sebenarnya bunga ini bukan asli berasal dari negara Indonesia melainkan dari negara Meksiko. Oleh sebab itu, nama Jalapa pada sebutan latinnya diambil dari nama sebuah kota di Meksiko. Dalam bahasa Inggris, bunga ini juga disebut sebagai Four o’clock plant. Dia juga memiliki beberapa nama dari berbagai daerah, misalnya di Jawa, bunga ini sering disebut kederat, segerat, tegerat, di Bali dia bisa disebut sebagai noja, pukul ampa di Minahasa, bunga tete apa di Makassar, bunga-bunga parengki di Bugis, lore laka di Timor, kupa oras di Ambon dan di daerah Ternate dia akan dikenal sebagai Cako rana.

Tanaman hias ini mempunyai bunga berbentuk menyerupai terompet kecil. Dia juga memiliki beraneka ragam warna sesuai dengan jenisnya. Ada yang merah, putih, kuning, bahkan kadang-kadang dalam satu pohon terdapat warna campuran.

Batang bunga ashar (Mirabilis jalapa) tegak, bulat, permukan licin, dan bercabang-cabang dengan tinggi sekitar 50-80 cm. Daunnya berbentuk hati dengan ujung runcing. Panjang daunnya sekitar 3 – 15 cm dengan lebar antara 2 – 9 cm.

Bijinya berbentuk bulat berkerut. Pada waktu muda bijinya berwarna hijau, kemudian berubah menjadi hitam kehitaman. Akhirnya pada saat matang bewarna hitam sepenuhnya.

Flora yang cantik ini dapat tumbuh pada dataran rendah hingga daerah berketinggian 1.200 meter dpl.

Lalu apa saja pemanfaatan Bunga Pukul Empat ini? Sesuai namanya bunga ini dulunya digunakan sebagai penanda masuknya waktu sholat ashar. Namun akhir-akhir ini pemanfaatan satu ini sudah jarang dipakai. Manfaat lainnya dari bunga ashar adalah sebagai tanaman obat. Beberapa bagian yang dapat dimanfaatkan sebagai obat antara lain daun Mirabilis jalapa yang berkhasiat sebagai obat bisul dan akarnya yang dapat digunakan untuk mengobati sembelit dan bengkak.

Selain itu, bijinya pun dapat dimanfaatkan sebagai bedak setelah menambahkannya dengan bahan-bahan lain.

Berikut klasifikasi ilmiah dari flora khas Lampung yaitu
Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Caryophyllales; Famili: Nyctaginaceae; Genus: Mirabilis; Spesies: Mirabilis jalapa.

Nah, terjawab sudah apa yang menjadi flora khas provinsi Lampung. Kalau bunga yang menjadi ciri di daerahmu apa?

Sumber pic:

https://goo.gl/images/C14a7E

https://goo.gl/images/2LMr5P

Mengasuh Anak Zaman Now dengan Pola Pengasuhan Positif (Rangkuman Seminar Parenting bersama psikolog Bu Octa Reni S, S.Psi.,M.Psi. di sekolah anakku pada tanggal 24 Maret 2018 lalu)

Seperti yang kita ketahui bersama, mengasuh anak zaman now merupakan tantangan tersendiri. Karena tiadanya sekolah menjadi orang tua, biasanya kita akan mengadaptasi pola pengasuhan dari orang tua kita dahulu. Sementara dengan adanya perkembangan teknologi tentu pola asuh kita sudah tak lagi bisa disamakan. Karena adanya perbedaan karakteristik generasi zaman dulu dan sekarang. Perbedaan ini dipengaruhi perkembangan teknologi yang ada.

Generasi yang terlahir dari usia 1995-2010 ini bisa disebut juga generasi digital native (atau generasi Z). Generasi Z ini sudah mengenal interaksi gadget sejak usia dini.

Sementara anak yang terlahir sejak tahun 2011 ke atas bisa disebut sebagai generasi alpha. Generasi ini bahkan sudah terpapar gadget sejak usia kandungan.

Hal ini yang membedakan karakteristik mereka dengan karakteristik orang tuanya yang terlahir pada tahun 70-90an (atau disebut juga generasi X). Yang berarti berbeda pula dengan generasi kakek-neneknya (atau orang tua kita) yang terlahir pada tahun 40-60an (generasi boomer).

Anak dari generasi Z ke atas biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut: kritis, tidak bisa hidup tanpa gadget, mengharap segala sesuatu “sekarang”, multitasking.

Perkembangan teknologi masa kini bisa memudahkan hidup kita di segala aspek. Dari mulai terciptanya remote yang membuat kita enggan bergerak untuk memindahkan saluran TV sampai adanya aplikasi terbaru yang memudahkan kita menyewa kurir antar jemput dan pesan makanan siap antar hanya dengan satu klik.

Dampak teknologi ini bagi anak kita, mereka akan mengharapkan segala sesuatu secara instan.

Tak hanya itu, efek negatif lainnya dari perkembangan teknologi ini antara lain:

  1. Gangguan penglihatan (cahaya pada gadget), pendengaran (efek penggunaan earphone terlalu lama), capal tunnel syndrome.
  2. Karakter agresif, tantrum, nggak sabaran dan mudahnya anak terpapar konten yg tidak sesuai usianya.
  3. Kurang konsentrasi dan malas belajar.

Gadget juga mempunyai prospek dalam menjadikan anak sebagai pribadi yang individualis. Sudah menjadi pemandangan umum bila melihat sebuah keluarga, misalnya di tempat makan, masing-masing dari mereka memegang gadget sendiri-sendiri dan bahkan tiada komunikasi satu sama lainnya. Apalagi jika menggunakan headset.

Namun di sisi lain, kehadiran teknologi tidak bisa dihindarkan dari anak. Kita tidak bisa melarang penggunaan gadget sama sekali pada anak.

Sebenarnya teknologi tidak hanya membawa dampak negatif, ada juga dampak positif teknologi, antara lain:

  1. Sumber pengetahuan dan kreativitas.
  2. Membangun komunikasi keluarga. Semisal dengan membentuk grup WhatsApp khusus keluarga.
  3. Multi bahasa. Teknologi memudahkan kita mempelajari berbagai bahasa.
  4. Pengembangan bakat dan profesi. Semisal, pekerjaan zaman kini tak hanya sebatas menjadi guru, dokter dan lainnya yang merupakan cita-cita anak zaman dulu. Dengan adanya perkembangan gadget, bisa-bisa saja anak mempunyai cita-cita menjadi Blogger, Vloggers, atau YouTubers yang ternyata cukup menghasilkan.

Pengasuhan yg positif merupakan pengasuhan yang mengutamakan ikatan orang tua dan anak. Sebagai orang tua, alih-alih melarang penggunaan gadget, lebih baik kita dampingi anak saat penggunaan gadget. Terangkan segala konten teknologi yang ada. Kita bantu anak mengembangkan daya analisisnya. Ajaklah anak berdiskusi saat menggunakan aplikasi yang ada.

Anak terutama pada usia golden age (sampai usia 6 tahun) memiliki daya serap tinggi hingga mencapai 80%. Dia akan begitu mudah menyerap segala informasi yang ada. Manfaatkanlah kecerdasannya itu dengan rajin mengajak anak berdiskusi.

Orang tua juga selayaknya memiliki quality time bersama anak-anak. Termasuk orang tua yang keduanya bekerja. Jangan beralasan tidak sempat, karena bonding time ini sebenarnya nggak perlu lama-lama, cukup 15 menit per harinya, tapi benar-benar real hadir bersama anak. Jangan mendampingi anak dengan diselingi aktivitas ataupun pikiran lainnya. Kita perlu hadir sepenuh jiwa tak hanya raga di sisi anak kita.

Berikut tips melakukan bonding pada anak:

  1. Eye contact
  2. Memahami emosi anak
  3. Menghargai anak (rajin memberikan pujian meski perkembangannya mungkin terlihat biasa, tapi sebagai orang tua, kita harus rajin memberikan support pada anak).
  4. Mengajak anak diskusi dengan memberikan pilihan pada anak. Misalnya; daripada kita langsung menentukan menu makan anak, ada baiknya kita tanyakan anak maunya makan dengan menu apa? Dsb.
  5. Berada 1 level dengan anak, jangan pernah menganggap diri lebih tinggi dari anak.
  6. Merasa senang saat mengasuh anak. Karena anak bisa memahami kondisi orang tua saat mengasuhnya, apakah sepenuh hati atau setengah hati.
  7. Sadari bahwa diri menjadi role model. Karena anak hanya akan menyerap dari segala apa yang dia terima. Kita harus menyadari bahwa anak tidak akan pernah gagal dalam meniru perilaku orang tuanya.

Maka, biasakanlah benar-benar hadir pada saat melakukan pengasuhan anak. Abaikan sesaat kemampuan multitasking kita. Ingatlah, meraih kesuksesan dalam hidup bisa kita ulang namun masa golden periode anak kita tidak akan pernah terulang kembali. Anak akan selalu tumbuh lebih besar, jangan sampai kita melewatkan momen paling berharga itu.

Positive thinking menjadi positive feeling menjadi positive parents yang akhirnya menghasilkan happy kids.

Sebagai tambahan, berikut ini saya cantumkan juga hasil pada sesi tanya-jawab, yaitu:

1. Bagaimana cara menangani anak yang sering mengamuk?

Jawaban dari psikolog:

Baiknya menangani anak yang mengamuk adalah biarkan dia hingga menjadi tenang, namun tetap menemaninya. Jangan menyambi dengan kegiatan apapun saat kita sedang menunggu anak meluapkan emosinya. Tetaplah berada di sisi anak. Ketika anak sudah reda, rangkul dia dengan penuh kasih sayang. Dan kita harus mencari tahu penyebab dia mengalami tantrum. Agar di kemudian hari semoga tidak terulang kembali. Apalagi perilaku tantrum ini diharapkan tidak muncul lagi setelah anak usia SD. Maka diharapkan anak sudah lulus dalam hal menguasai emosi pada periode golden age.

2. Bagaimana cara mengatasi kakak adik yang selalu saja berkelahi?

Jawaban:

Sebenarnya perilaku kakak-adik ini masih bisa dibilang wajar. Nggak ada kakak-adik yang nggak pernah sama sekali berantem. Tapi jangan sampai menjadi kebablasan. Perilaku ini bisa disebut dengan sibling rivalry.

Penyebabnya antara lain:

  1. Dibanding-bandingkan. Mungkin kita selaku orang tua pernah tanpa sadar mengatakan ini, “coba kamu rajin belajar, kayak kakak kamu itu loh.” Mungkin kita bermaksud memotivasi anak, namun justru kata-kata ini akan membuat anak menganggap bahwa dirinya tidak sebaik kakaknya. Sehingga akan membuat anak menjadi tidak percaya diri.
  2. Perlakuan yang tidak sama antara kakak dan adiknya. Sebaliknya mungkin kita karena menganggap kakak lebih besar sehingga kita mengharap kakak lebih dewasa. Sehingga kita lebih sering menyuruh kakak daripada adiknya. Nah, sikap ini yang akan menjadikan anak menganggap orang tuanya berlaku tidak adil. Baiknya kita tak bosan-bosan mengajak anak berdiskusi dan mengungkapkan sayang pada keduanya, kakak dan adik, sama besar dan tidak dibedakan.

Sumber acara seminar parenting Positive Parenting for Positive Attitude oleh Psikolog Bu Octa Reni Setiawati,S.Psi.M.PSi., Psikolog (CBT)

Sumber pic: Google dan koleksi foto pribadi